MenteriBadan Usaha Milik Negara Republik Indonesia (BUMN RI) Erick Thohir melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (20/11/2021). Dalam kunjungan tersebut, Erick Thohir menjelaskan tentang pentingnya untuk meningkatkan ekonomi nasional.
Iniadalah teguran dari Allah. Baik secara personal maupun sebagai bangsa, kita harus meningkatkan amal ibadah dan meningkatkan kualitas ibadah kita,” imbau pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo ini. Di sisi lain, Kiai Mutawakkil mengaku merasakan kekompakan di jajaran MUI Kota Probolinggo
kiaihasan genggong dikenal masyhur kewaliannya. ternyata, sejak masa kecil sudah tampak, bahkan sejak di kandungan. cahaya memancar Bukan Amal yang Menjadi Sebab Manusia Masuk Surga Tetapi Niat Ini Kata Gus Baha, Berikut Penjelasannya. 5. Press Release Pameran Seni Rupa Plered Bubrah 2022, 7 Hari Nonstop untuk Budaya Nusantara. 6.
Saya santri Genggong yang tidak bisa hadir langsung pada acara Milad Majlis TAMRU (Ta’lim Maulid Raoudhatul Ulum). Untuk mengobati rasa rindu pada pesantren, pilihannya nonton siaran live di chanel YouTube. KH. Hasan Naufal, yang karib dipanggil Gus Boy sebagai pengasuh Majelis Tamru membuka Majlis dengan tembang ‘Turi Putih’.
MbahHasan Genggong sangat taat dan patuh pada gurunya. Bahkan saat Mbah Kholil Bangkalan menyuruhnya untuk dikubur sedalam leher di kebun belakang.. Diriwayatkan bahwa saat akhir masa belajarnya, Mbah Hasan Genggong dipendam hingga sebatas leher oleh Mbah Kholil Bangkalan tanpa diketahui santri lainnya. Setelah 40 hari 40 malam, Mbah Kholil
2) Jatim bagian Timur di bawah pengaruh kuat Pondok Sidogiri Pasuruan dan Pondok KH Zainul Hasan Genggong Probolinggo. (3) Jatim bagian Utara pengaruh Pondok Langitan Widang Tuban. (4) Jatim bagian Tengah dipengaruhi 4 pondok besar di Kabupaten Jombang: Pondok Tebuireng, Pondok Bahrul Ulum Tambakberas, Pondok Mambaul Ma’arif
CONDONGGANG II KH. NAWAWI DUSUN PESANTREN: Pajarakan Kulon: SWASTA: 21 20582005: MTSS USWATUN HASANAH: JALAN CONDONG DOSER INDAH SELOGUDIG WETAN: Selogudig Wetan: SWASTA: 22 SD ZAINUL HASAN GENGGONG: Genggong: Karangbong: SWASTA: 42 20571587: SDIT Jami atul Ulum: Jl. Condong Doser Indah: Selogudig Wetan: SWASTA: 43
LihatJuga. FENOMENA TARI SAMMAN DI DESA TAMBUKO KECAMATAN GULUK-GULUK SUMENEP MADURA oleh: Hariri, Moh Terbitan: (2017) ; Peran KH. Mohammad Hasan dalam mengembangkan tarekat Naqsyabandiyah di pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo oleh: Rozy, Muhammad Hasan Hikamur Terbitan: (2017)
UNZAHGENGGONG– Ketua Yayasan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH. Moh. Hasan Mutawakkil ‘Alallah, S.H., M.M., hadir langsung dalam pengukuhan Mahasiswa Baru (MABA) Universitas Islam Zainul Hasan (UNZAH) Genggong.. Dikemas dalam bentuk INAGURASI pada kesempatan tersebut kiai Mutawakkil manyampaikan kuliah umum
PROBOLINGGO| Ribuan jamaah dari Probolinggo maupun berbagai daerah di Jawa Timur, Senin (24/8/2020), tumplek blek menghadiri Haul Akbar KH Sholeh Nahrawi dan Masyayikh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo. Mereka mamadati pelantaran kediaman KH Moh. Hasan Ainul Yaqin di kompleks Pondok Pesantren
8dRGl. 403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID A0hZ2ATLf1lRaHy0ePikgCBsqV0D2r5ZoIQAcVQawdzz3rVNgQsjGg==
Home Cerita Pagi Sabtu, 22 Januari 2022 - 0500 WIBloading... Kiai Hasan A A A Kiai Hasan Genggong adalah seorang guru sufi yang terkenal sebagai salah satu mursyid alias pembimbing spiritual Thoriqoh Naqsyabandiyah. Ulama yang juga dikenal sebagai Syekh Hasan Genggong lahir di Probolinggo pada 1259 Hijriyah dan meninggal pada 1373 Hijriyah. Dia merupakan ulama dari para wali dan seorang wali dari para hidupnya, ulama ini sosok panutan bagi banyak orang pada zamannya. Kiai Hasan mengabdikan hidupnya untuk mengasuh Yayasan Pendidikan Pesantren Zainul Hasan Genggong pada periode 1865 hingga 1952, seperti dilansir juga Perjalanan Syekh Jumadil Kubro Menyebarkan Islam di MajapahitKini, yayasan pendidikan yang diteruskan oleh para keturunannya semakin dikenal luas di kalangan masyarakat, khususnya di Probolinggo dan Jawa Timur. Ulama ini pernah memberikan doa pada penjajah Belanda Kiai Hasan Genggong sudah tampak sejak ia masih di dalam kandungan sang ibu. Konon, ketika hamil sang ibu bermimpi menelan bulan, mimpi itu diartikan jika kelak anak dalam kandungannya akan menjadi orang yang itu, Kiai Syamsuddin ayahnya juga mengalami hal unik serupa sang istri. Suatu ketika, Kiai Syamsuddin mengisi ceramah di desa lain dan pulang larut jalan mendaki, Kiai Syamsuddin melihat cahaya dari kejauhan memancar dari arah timur. Rupanya, sinar itu berasal dari rumahnya. Saat sang ayah sampai rumah, Kiai Hasan Genggong rupanya sudah adalah Kholifah kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong dan intelektual yang produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Salah satu karyanya adalah kitab Nadham Safinatun Najah. Dia berasal dari keluarga Alawiyyin dari marga Al Qodiri Al Hasani yang merupakan keturunan dari Sultanul Awliya al-Quthub al-Kabir Syekh Abi Muhammad Muhyidin Abdul Qadir al-Jailani, seperti dikutip NU zaman penjajahan Belanda, Kiai Hasan Genggong pernah mendapat kunjungan dari Charles Olke van der Plas dan rombongannya. Saat itu, van der Plas menjabat sebagai gubernur kawasan Jawa Timur. Ia meminta Kiai Hasan Genggong berkenan mendoakannya. cerita pagi kisah ulama belanda mendoakan orang lain Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkini More 3 menit yang lalu 12 menit yang lalu 31 menit yang lalu 31 menit yang lalu 1 jam yang lalu 1 jam yang lalu
Probolinggo, Gontornews — Kiai Hasan Genggong, demikian biasa dipanggil. Ia memiliki nama lengkap KH Muhammad Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin. Kiai Hasan Genggong lahir pada 27 Rajab 1259 atau 23 Agustus 1840, bertepatan dengan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, dari pasangan Kiai Syamsuddin dan Nyai Hasan Genggong, merupakan salah satu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong ini, merupakan sosok panutan di zamannya. Kealiman dan kewalian Kiai Hasan tak diragukan lagi. Bahkan, pengasuh kedua Pesantren Zainul Hasan Genggong ini juga dikenal sebagai wali Hasan Sepuh, sapaan akrab beliau, mempunyai budi pekerti yang sangat tinggi serta welas asih. Tak hanya kepada sesama manusia, Kiai Hasan juga memberikan kasih sayangnya kepada makhluk lain seperti situs resmi Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, diungkapkan bahwa jejak kesantrian Kiai Hasan Genggong dimulai sejak usia belia sampai dewasa. Dari mondok di sejumlah pesantren di tanah air, berlanjut nyantri ke Mekkah dan masa mudanya, Kiai Hasan Genggong pernah mengenyam pendidikan baik di dalam negeri dan di luar negeri, diantaranya; Pesantren Sentong, Krejengan dibawah asuhan KH. Syamsuddin, Pesantren Sukonsari, Pojentrek-Pasuruan Asuhan KH Mohammad Tamin, Pesantren Bangkalan selama 3 tahun asuhan KH. Mohammad Cholil dan selama 3 tahun di Mekkah Al kalangan ulama sepuh Nahdlatul Ulama NU, Kiai Hasan Genggong senantiasa dijadikan sebagai sosok yang selalu diminta nasihat dan pertimbangan persoalan NU dan proses awal pendirian organisasi NU, almarhum Kiai Hasan Genggong juga diminta pendapat dan nasihat oleh almarhum KH Wahab Hasbullah; KH As’ad Syamsul Arifin; dan para pendiri NU yang lain atas rekomendasi dari Syaikhona Kholil Bangkalan dan Syeikh KH Hasyim Asy’ Hasan Sepuh yang dikenal sebagai sosok ulama dengan kezuhudannya, selalu menjadi tempat rujukan ketika ulama pendiri NU akan mengambil keputusan. Ketika NU lahir pada 1926 pada saat bumi nusantara masih dicengkeram penjajah Belanda, Kiai Hasan Genggong menjadikan Pesantren Genggong sebagai basis perjuangan masa penjajahan, Kiai Hasan Genggong turut berkontribusi dalam mengusir penjajahan, khususnya di wilayah Jawa Timur. Betapapun kondisi fisiknya pada saat-saat memuncaknya angkara penjajah, nampak lemah karena usia, namun Almarhum tetap berusaha menghadiri rapat-rapat akbar di pelosok-pelosok tanpa mengenal juga pada masa penjajahan Jepang, ia dengan sikap tegas melawannya. Ketika itu musim paceklik tengah melanda masyarakat, khususnya di daerah sekitar pondok Kiai Hasan Genggong melawan penjajah mengembara hingga detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia. Sinyal kemerdekaan itu jauh sebelumnya telah dirasakan oleh Kiai ini menjadi jelas ketika ia memerintahkan kepada putranya yang bernama K. Nasnawi wafat, untuk membentuk barisan perjuang dengan nama “Anshorudinillah”, sebagai barisan untuk mempertahankan Negara ini terbukti. Sebab tidak lama kemudian pemberontakan di Surabaya meletus. Kemudian timbul inisiatif dari komandan polisi Kraksaan, Abd. Karim, untuk menjadikan barisan tersebut sebagai pasukan inti di garis depan. Kemudian, berdasarkan hasil musyawarah, nama Anshorudinillah itu diganti menjadi “Barisan Sabilillah”.Dalam situasi yang gawat ini, tidak sedikit para pejuang angkatan 45 yang datang kepada Kiai Hasan untuk memohon doa restu, demi kejayaan dan keselamatan perjuangan bangsa melawan penjajah yang akan memasuki kembali wilayah bumi tercinta Genggong juga dijadikan sebagai kubu pertahanan gerilyawan- gerilyawan. Di sini Kiai Hasan Genggong memberikan gemblengan kepada santri-santrinya memberikan santapan batin serta mendoakan bagi gerilyawan- gerilyawan demi keselamatan mengisi pengajian kitab tafsir di bulan puasa pada tahun 1955, Kiai Hasan mengatakan bahwa santri kembali ke pondok Genggong kala itu diganti tanggal 10 Syawal yang biasanya tanggal 15 Syawal karena menurut Kiai Hasan tanggal 11 Syawal akan ada pengajian besar. Ternyata pada 11 Syawal tersebut Kiai Hasan Genggong wafat di tengah-tengah santri yang sudah kembali ke pesantren. [Fath]