askumini tulisan sngat bagus,utamanya membuka cakrawala pemahaman tentang bid'ah,setau ane gada tradisi jahiliyah yg di islamkan,tapi napa para ulama kita dg mudahnya meng islamkan juga ukuran slah benarnya dlm ber islam adalah sunnah dan qu'an.jadi gasah nambah2lah,palagi bid'ah ko hasanah.lawong dah jelas setiap bid'ah itu dlolalah. afwan klo salah.
MACAMMACAM BID'AH. Bid'ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam : 1. Bid'ah qauliyah 'itiqadiyah : Bid'ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu'tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka. 2.
Darisekian banyak komentar-komentar tentang bid'ah, ana jadinya bingung tentang apa-apa saja yang termasuk bid'ah sesungguhnya. Afwan, ana masih terlalu awan untuk memahami semuanya. Tapi, ana mau menjalani semua syari'at islam dengan sempurna (walau nggak akan sempurna sepenuhnya)tentunya disandarkan pada al-Qur'an & al-Hadist shahih.
PertanyaanSoal Bid'ah (1)Assalamu'alaikum wr. wb. Saya ingin menanyakan, bagaimana sikap kita bila di lingkungan tempat tinggal kita ini meskipun orang-orangnya. Soal Bid'ah - % Karena mereka belum tahu tentang pengetahuan agama secara dalam. Memahami Al-Qur'an dan Hadits serta praktek ibadah Nabi Saw, tidak
TanyaJawab Seputar Bid'ah. By Dindin Nugraha. 18 Januari 2018. 0. 5733. Bagikan. Facebook. Twitter. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. Tetapi tentang bid'ah hasanah semisal ritual tahlilan atau kirim doa untuk mayit, pasti tetap kami laksanakan
Muhammadiyahsendiri cenderung tidak membagi bid'ah menjadi hasanah dan sayyiah. Selama suatu amalan ibadah ada landasan dalil dan dengan sistem istidlal yang bisa dipertanggungjawabkan dan dianggap kuat (rajih,) maka amalan itu bisa dilakukan. Jika pendapat itu lemah, maka tidak dapat dilakukan.
JawabSoal Tentang Bid'ah. Kepada Abdulla Amer. Pertanyaan: Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Kemarin, orang-orang sedang keluar dari shalat Jumat. Orang-orang berjubel di pintu masjid, lalu seseorang berkata "shallû 'alâ an-nabiy -bershalawatlah kepada nabi-. Maka seseorang yang lain berkata: "diamlah, itu bid'ah."
KirimPertanyaan . Jawaban-jawaban baru . Mengenal Islam Tentang Website . Petunjuk Pengguna . Kategori Tema Fiqih dan Usul Fiqih Usul fikih bidah bidah Membatalkan Mengikuti . 695 15-02-2015 Menghatamkan Al Qur'an, Apakah Perlu Dirayakan ?
Pertanyaan Saya sering mendengar ustadz bicara tentang bid'ah.Apa sih definisi bid'ah dan contoh nyatanya di masyarakat sekarang?. andiga putra<[email protected]> Jawaban: Bismillah.Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya, Al-I'tisham, memberikan definisi bid'ah, sebagai berikut, طريقة فيالدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها
Bukhari Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan tiap bid'ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR.
i8tsgj. 0% found this document useful 0 votes191 views4 pagesDescriptionTanya Jawab tentang bid'ah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin RahimahullahCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsPDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes191 views4 pagesTanya-Jawab Tentang Bid'AhDescriptionTanya Jawab tentang bid'ah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin RahimahullahFull description BID'AH; Beberapa Pertanyaan dan Jawabannya Oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-'Utsaimin Mungkin ada diantara kita yang bertanya bagaimanakah pendapat anda tentang perkataanUmar bin Khattab setelah memerintahkan kepada Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dariagar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendapatkan jama'ahsedang berkumpul dengan imam mereka, beliau berkata "Inilah sebaik-baik bid'ah...dst." JawabannyaPertama bahwa tak seorangpun diantara kita boleh menentang sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, 'Utsman, Ali atau dengan perkataansiapa saja selain mereka. Karena Allah Ta'ala berfirman " Maka hendaklah orang-orangyang menyalahi perintahnya Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yangpedih ." An-Nur 63Imam Ahmad bin Hambal berkata "Tahukah anda, apakah yang dimaksud dengan fitnah?Fitnah, yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan, akhirnya akan jadi binasa."Ibnu Abbas berkata "Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. KukatakanRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, tapi kalian menentangnya dengan ucapan Abu Bakar dan Umar." Kedua Kita yakin kalau Umar termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah dan sabdaRasul-Nya. Beliaupun terkenal sebagai orang yang berpijak pada ketentuan-ketentuan AllahTa'ala, sehingga tak heran jika beliau mendapat julukan sebagai orang yang selaluberpegang teguh kepada kalamullah. Dan kisah perempuan yang berani menyanggahperkataan beliau tentang pembatasan mahar maskawin dengan firman Allah, yang artinya" Sedang kamu telah memberikan kepada seorang diantara mereka harta yangbanyak..." bukan rahasia lagi bagi umum, sehingga beliau tidak jadi melakukan pembatasanmahar. Sekalipun kisah ini perlu diteliti lagi tentang kesahihannya, tetapi dapat menjelaskanbahwa Umar adalah seorang yang senantiasa berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, karena itu, tak patut bila Umar menentang sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamdan berkata tentang suatu bid'ah "Inilah sebaik-baik bid'ah", padahal bid'ah tersebuttermasuk dalam kategori sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam "Setiap bid'ah adalahkesesatan." Akan tetapi bid'ah yang dikatakan oleh Umar, harus ditempatkan sebagai bid'ah yang tidaktermasuk dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Maksudnya adalahmengumpulkan orang-orang yang mau melaksanakan sholat sunat pada malam bulanRamadhan dengan satu imam, dimana sebelumnya mereka melakukannya sholat sunat ini sendiri sudah ada dasarnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa BID'AH BEBERAPA PERTANYAAN DAN JAWABANNYA 1/4 sallam, sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallampernah melakukan qiyamul lail bersama para sahabat tiga malam berturut-turut, kemudianbeliau menghentikannya pada malam keempat dan bersabda " Sesungguhnya aku takut kalau sholat tersebut diwajibkan atas kamu, sedangkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya ." HR Bukhari dan MuslimJadi qiyamul lail sholat malam di bulan Ramadhan dengan berjama'ah termasuk sunnahRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun disebut bid'ah oleh Umar pertimbangan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah menghentikannyapada malam keempat, ada diantara orang-orang yang melakukannya sendiri-sendiri, adayang melakukannya dengan berjama'ah dengan beberapa orang saja dan ada yangberjama'ah dengan orang banyak. Akhirnya Amirul mu'minin dengan pendapatnya yangbenar mengumpulkan mereka dengan satu imam. Maka perbuatan yang dilakukan olehUmar ini disebut bid'ah, bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh orang-orangsebelum itu. Akan tetapi sebenarnya bukanlah bid'ah, karena pernah dilakukan olehRasulullah shallallahu 'alaihi wa penjelasan ini, tidak ada suatu alasan apapun bagi ahli bid'ah untuk menyatakanperbuatan bid'ah mereka sebagai bid'ah hasanah. Mungkin ada juga yang bertanya Ada hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada masaRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam,seperti adanya sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti itudinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebaikan. Lalubagaimana hal ini, yang sudah hampir menjadi kesepakatan kaum Muslimin, dipadukandengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam "Setiap bid'ah adalah kesesatan." Jawabannya Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenarnya bukan bid'ah, melainkan sebagai saranauntuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat danzamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaidah "Sarana dihukumi menurut tujuannya".Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukumnya diperintahkan, sarana untukperbuatan yang tidak diperintahkan, hukumnya tidak diperintahkan, sedang sarana untukperbuatan haram, hukumnya adalah haram. Untuk itu suatu kebaikan jika dijadikan saranauntuk kejahatan, akan berubah hukumnya menjadi hal yang buruk dan jahat. Firman Allah Ta'ala " Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang merekasembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batastanpa pengetahuan ."Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang musyrik adalah perbuatan haq dan padatempatnya, sebaliknya menjelek-jelekkan Rabbul 'Alamien adalah perbuatan durjana dantidak pada tempatnya. Namun karena perbuatan menjelek-jelekkan dan memaki sembahanorang-orang musyrik menyebabkan mereka akan memaki Allah, maka perbuatan tersebutdilarang. Ayat ini sengaja kami kutip, karena merupakan dalil yang menunjukkan bahwa saranadihukumi menurut tujuannya. Adanya sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan danpenyusunan kitab-kitab dan lain sebagainya walaupun hal baru dan tidak ada seperti itu pada BID'AH BEBERAPA PERTANYAAN DAN JAWABANNYA 2/4 zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun bukan tujuan, tetapi merupakan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandainya ada seorang yangmembangun gedung sekolah dengan tujuan untuk pengajaran ilmu yang haram, makapembangunan tersebut hukumnya adalah haram. Sebaliknya apabila bertujuan untukpengajaran ilmu syar'i, maka pembangunannya adalah diperintahkan. Jika ada pula yang mempertanyakan bagaimana jawaban Anda terhadap sabda Nabishallallahu 'alaihi wa sallam "Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikutinya meniru perbuatannya itu..." Jawabannya Bahwa orang menyampaikan ucapan tersebut adalah orang yang menyatakan pula "Setiapbid'ah adalah kesesatan" yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tidak mungkinsabda beliau sebagai orang yang jujur dan terpercaya ada pertentangan satu samalainnya. Sebagaimana firman Allah juga tidak ada yang saling bertentangan. Kalau adayang beranggapan seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadimungkin karena dirinya yang tidak mampu atau kurang jeli. Dan sama sekali tidak akan adapertentangan dalam firman Allah atau sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa demikian tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, karena Nabimenyatakan "Man Sanna Fil Islam" yang artinya" Barangsiapa berbuat dalam Islam"sedangkan bid'ah bukan termasuk dalam Islam, kemudian menyatakan "sunnahhasanah" berarti sunnah yang baik, sedangkan bid'ah bukan yang baik. Tentu berbedaantara berbuat sunnah dengan mengerjakan bid' lainnya, bahwa kata-kata "Man Sanna" bisa diartikan pula "Barangsiapamenghidupkan suatu sunnah" yang telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata "Sanna" tidak berarti membuat sunnah untuk dirinya sendiri, melainkanmenghidupkan kembali suatu sunnah yang telah ditinggalkan. Ada juga jawaban lain yang ditunjukkan oleh sebab timbulnya hadits diatas, yaitu kisahorang-orang yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mereka dalamkeadaan yang amat sulit. Maka beliau menghimbau kepada para sahabat untukmendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar denganmembawa sebungkus uang perak yang kelihatannya cukup banyak, lalu diletakkannyadihadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu berseri-serilah wajah beliaudan bersabda "Siapa yang memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka iamendapat pahala perbuatannya dan pahala orang-orang yang mengikuti meniru perbuatannya itu..." Dari sini, dapat dipahami bahwa arti "Sanna" ialah melaksanakan mengerjakan bukanberati membuat mengadakan suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau "Man Sanna FilIslam Sunnah Hasanah" yaitu "Barangsiapa melaksanakan sunnah yang baik" bukanmembuat atau mengadakannya, karena yang demikian ini dilarang berdasar sabda beliau Kullu bid'ah dhalalah. BID'AH BEBERAPA PERTANYAAN DAN JAWABANNYA 3/4
Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah "bid’ah" ini disandingkan dengan istilah "sunnah". Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami agama yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”. Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya furu’. Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ “Allah yang menciptakan langit dan bumi”. Al-Baqarah 2 117. Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut; اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”. Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ “Sebagus bid’ah itu ialah ini”. Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah. مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج 5ص 76. “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”. Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka? كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ “Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”. Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk. Mari kita kembali kepada hadits. كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ “Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”. Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan Kemungkinan pertama كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”. Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”. -KH. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama LDNU dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah Aswaja Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU
Oleh abu yazid 1. Pertanyaan Bid’ah itu apa ? Jawab Secara Bahasa adalah sesuatu yang baru yang tidak ada pada zaman Nabi . Secara Istilah adalah sesuatu yang baru, yang tidak ada contoh sebelumnya didalam agama ini, yang menyerupai agama/syariat, yang dibuat oleh orang atas nama agama sehingga ia terlihat szeperti bagian dari agama ini, dengan maksud untuk taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah untuk mendapatkan ganjaran pahala/kebaikan. 2. Pertanyaan Apakah setiap bid’ah adalah kesesatan ? Jawab Ya… Jika dalam hal urusan agama/peribadatan bukan dalam hal urusan dunia. Nabi diutus ke dunia untuk memperbaiki tauhid, aqidah dan tata cara peribadatan manusia kepada Allah . Dan Allah ingin dibadahi sesuai dengan apa yang diinginkan oleh-Nya yang diajarkan oleh Nabi yang mulia kepada para sahabat , bukan berdasarkan selera diri sendiri/kelompok. Agama ini telah sempurna yang tidak perlu ada penambahan maupun pengurangan sedikitpun, sebagaimana dengan firman Allah …Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu… QS Al-Maidah3 Ayat tersebut turun pada haji wada’ beberapa hari sebelum Rasulullah wafat, jadi tidak boleh ada modifikasi penambahan/pengurangan syariat yang telah ditetapkan. Karena setiap penambahan/pengurangan syariat haruslah dengan wahyu Allah yang datang melalui Nabi-Nya. Dan sabda Nabi yang mulia yang menyatakan bahwa Setiap Bid’ah adalah sesat yang bermakna umum tidak ada pengecualian. Hadits Jabir bin Abdullah , bahwa Rasulullah pernah berkhutbah dihadapan khalayak ramai, beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya sesuai keberadaan-Nya, kemudian beliau bersabda Amma ba’du, seungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap bid’ah adalah sesat. HR Muslim Dan didalam hadits Irbadh bin syariyah dijelaskan, Rasulullah menasehati kami dengan nasehat yang menggetarkan hati dan membuat air mata kami berlinang. Lalu kami berkata “Wahai Rasulullah ! sepertinya ini adalah nasehat perpisahan, maka nasehatilah kami ya Rasulullah.” Beliaupun lalu bersabda, “aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah lalu tunduk dan taat kepada pemimpin walaupun yang yang memimpin kalian dalah hamba sahaya, karena sesungguhnya orang yang hidup diantara kalian akan mendapatkan perselisihan yang banyak. Oleh karena itu berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku. Gengamlah erat-erat sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian dan berhati-hatilah dengan perkara yang baru bid’ah, karena setiap yang baru bid’ah adalah sesat.” HR Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2676 dll, lihat al-Luma fil-rudd ala Muhassiny al-Bida’ sabda Rasulullah “Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami dalam Islam yang tidak terdapat tuntunan padanya, maka ia tertolak” [Muttafaqun alayhi] Dan sabda beliau. “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak” [HR Bukhari] Dengan demikian, maka tidak ada jalan bagi ahli bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah, dan perkataan Setiap bid’ah adalah kesesatan Merupakan perkataan yang langsung keluar dari lisan Nabi kita yang mulia , dan bukan perkataan sahabat ataupun ulama. 3. Pertanyaan Bukankah ada bid’ah hasanah ? Jawab Nabi telah mengatakan bahwa Setiap bid’ah adalah sesat, tidak ada pengecualian. Jika ada bid’ah hasanah maka saya ingin bertanya tentang Qawaid/Kaidah-kaidah dan Dhawabith/Batasannya. Apakah setiap perbuatan bid’ah adalah hasanah dan apakah setiap orang bisa membuat bid’ah ? Karena setiap bid’ah adalah sesuatu yang disandarkan kepada agama Islam ini, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah atau ingin mendapatkan ganjaran dari Allah . Sehingga bid’ah itu terlihat sebagai bagian dari agama ini dan orang menganggapnya sebagai bagian dari risalah yang dibawa oleh Nabi yang mulia . Mari kita artikan kedalam Bahasa Indonesia Bid’ah artinya Sesat Hasanah artinya baik/kebaikan Bid’ah hasanah artinya Kesesatan yang baik, gimana donk ada kesesatan yang baik, bukankah setiap kesesatan adalah kejahatan !!! Mungkin anak kecilpun akan bertanya “seperti apa kesesatan yang baik” 4. Pertanyaan Bagaimana dengan perkataan Umar ibnul Khaththab sebaik-baik bid’ah adalah ini pada shalat tarawih yang dijadikan landasan/dalil oleh mereka untuk membuat/melakukan dan melegalkan bid’ah ? Jawab Saya akan bawakan perkataan seorang ulama, yakni Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin –rahimahullah– dalam hal ini Pertama Tidak boleh seorangpun menentang perkataan Nabi walaupun dengan perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali atau dengan perkataan selain mereka. Karena Allah berfirman Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. QS An-nur63 Fitnah disini ahli tafsir mengatakan kufur, syirik, murtad, nifaq dan bid’ah. Imam Ahmad bin Hanbal berkata “Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan fitnah ? fitnah yaitu syirik. Boleh jadi apabila seseorang menolak sebagian sabda Nabi akan terjadi pada hatinya suatu kesesatan, akhirnya ia akan binasa.” Ibnu Abbas berkata “Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit, kukatakan Rasulullah bersabda tapi kalian mengatakan Abu Bakar dan Umar berkata” Kedua Kita yakin kalau Umar termasuk orang yang sangat menghormati firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Tetapi bid’ah yang dikatakan oleh Umar harus ditempatkan sebagai bid’ah yang tidak termasuk didalam sabda Nabi setiap bid’ah adalah kesesatan. Kenapa ? karena shalat tarawih sendiri sudah ada pada zaman Rasulullah , sebagaimana yang dinyatakan oleh Aisyah –radiallahu anha- “bahwa Nabi pernah melakukan qiyamullail shalat malam bersama sahabat tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikannya pada malam ke-empat dan bersabda, Sesunggunya aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedangkan kamu tidak mampu untuk melaksanakannya” Muttafaqun Alayhi Jadi shalat malam tarawih pada bulan Ramadhan ada contohnya dari Nabi . Disebut bid’ah oleh Umar dengan pertimbangan bahwa Nabi menghentikannya pada malam ke-empat, ada sahabat Nabi yang melakukannya sendiri-sendiri, ada yang berjamaah dengan beberapa orang saja dan ada yang berjamaah dengan orang banyak. Akhirnya Umar sebagai khalifah pada saat itu dengan pendapatnya yang benar mengumpulkan mereka dalam satu imam. 5. Pertanyaan Apakah motor, mobil, pesawat, microphone itu bid’ah ? Jawab Tidak. Sebab motor, mobil, microphone dlsb adalah sarana dan merupakan urusan dunia dan Nabi diutus untuk bukan untuk mengurusi keduniaan tetapi diutus untuk urusan agama. Seperti men-tauhid-kan Allah, beribadah kepada-Nya dengan cara yang diinginkan oleh-Nya tidak dengan cara yang kita inginkan. Suatu kaedah yang perlu diketahui bahwa untuk perkara non ibadah adat, hukum asalnya adalah tidak terlarang mubah sampai terdapat larangan. Hal inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana dalam Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/86 dan ulama lainnya. Asy Syatibi juga mengatakan, “Perkara non ibadah adat yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah.” Al I’tishom, 1/348 Para pembaca dapat memperhatikan bahwa tatkala para sahabat ingin melakukan penyerbukan silang pada kurma -yang merupakan perkara duniawi-, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, إِذَا كَانَ شَىْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْر دِينِكُمْ فَإِلَىَّ “Apabila itu adalah perkara dunia kalian, kalian tentu lebih mengetahuinya. Namun, apabila itu adalah perkara agama kalian, kembalikanlah padaku.” HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengomentari bahwa sanad hadits ini hasan 6. Pertanyaan Bagaimana dengan dalil yang menyatakan “Barangsiapa yang membuat contoh/sunnah yang baik dalam Islam maka iaamendapat pahala perbuatnnya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat” ? Jawab Orang yang menyampaikan perkataan itu adalah orang yang menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat, yakni Rasulullah . Dan perkataan beliau tidak mungkin bertentangan, sebagaimana firman Allah tidak ada yang bertentangan. Kalau ada yang menganggapnya seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali karena anggapan tersebut terjadi mungkin karena dirinya tidak mampu atau kurang teliti. Karena tidak ada sama sekali pertentangan dalam firman Allah atau sabda Rasulullah . Mari kita perhatikan teks dalam bahasa Arabnya مَنْ سَنَّ فِيْ الإِ سْلَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَا مَةِ Coba perhatikan kembali hadits tersebut, Kata مَنْ سَنَّ فِيْ الإِ سْلَمِ barangsiapa yang berbuat sunnah didalam Islam, sedangkan bid’ah bukan berasal dari Islam. Dan hadits tersebut mengatakan dengan سُنَّةً حَسَنَةً sunnah yang baik bukan bid’ah yang baik !!!. Jadi kata سَنَّ tidak berarti tidak membuat sesuatu yang bid’ah, melainkan menghidupkan kembali sunnah yang telah lama ditinggalkan, karena arti sunnah berbeda dengan arti bid’ah. Jadi barangsiapa yang menghidupkan sunnah Nabi yang pernah ada kemudian ditinggalkan maka ia akan mendapatkan pahala dan mendapatkan pahala yang mengikutinya. 7. Pertanyaan kami melakukan itu dengan niat yang baik dan ikhlas, tidak bertujuan melawan syari’at, tidak mempunyai pikiran untuk mengoreksi agama, dan tidak terbersit dalam hati untuk melakukan bid’ah ! Bahkan sebagian mereka berdalil dengan hadits Nabi . “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” [Muttafaq Alaihi] Jawab Syarat diterimanya ibadah apabila memenuhi dua syarat, ikhlas dan mutaba’ah mengikuti contoh Rasulullah tidak hanya didasarkan atas niat baik dan ikhlas semata. Berikut ini saya bawakan perkataan syaikh Ali bin Hasan al-Halabi -hafidzahullah- Kewajiban seorang muslim yang ingin mengetahui kebenaran yang sampai kepadanya serta hendak mengamalkannya adalah tidak boleh menggunakan sebagian dalil hadits dengan meninggalkan sebagian yang lain. Tetapi yang wajib dia lakukan adalah memperhatiakn semua dalil secara umum hingga hukumnya lebih dekat kepada kebenaran dan jauh dari kesalahan. Demikianlah yang harus dilakukan bila dia termasuk orang yang mempunyai keahlian dalam menyimpulkan dalil. Tetapi bila dia orang awam atau pandai dalam keilmuan kontemporer yang bukan ilmu-ilmu syari’at, maka dia tidak boleh coba-coba memasuki kepadanya, seperti kata pepatah “Ini bukan sarangmu maka berjalanlah kamu!“. Adapun yang benar dalam masalah yang penting ini, bahwa sabda Nabi . “Sesunnguhnya segala amal tergantung pada niat” adalah sebagai penjelasan tentang salah satu dari dua pilar dasar setiap amal, pilar pertama yaitu ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya sehingga yang selain Allah tidak meretas ke dalamnya. Adapun pilar kedua adalah, bahwa setiap amal harus sesuai Sunnah Nabi , seperti dijelaskan dalam hadits, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak“. Dan demikian itulah kebenaran yang dituntut setiap orang untuk merealisasikan dalam setiap pekerjaan dan ucapannya. Atas dasar ini, maka kedua hadits yang agung tersebut adalah sebagai pedoman agama, baik yang pokok maupun cabang, juga yang lahir dan yang batin. Dimana hadits “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” sebagai timbangan amal yang batin. Sedangkan hadits “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak” sebagai tolak ukur lahiriah setiap amal. Dengan demikian, maka kedua hadits tersebut memberikan pengertian, bahwa setiap amal yang benar adalah bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, yang keduanya merupakan syarat setiap ucapan dan amal yang lahir maupun yang batin. Oleh karena itu, siapa yang ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah dan sesuai sunnah Rasulullah , maka amalnya diterima, dan siapa yang tidak memenuhi dua hal tersebut atau salah satunya maka amalnya tertolak. [Bahjah Qulub Al-Abrar 10 Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di] Dan demikian itulah yang dinyatakan oleh Fudhail bin Iyadh ketika menafsirkan firman Allah “Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” [QS Al-Mulk 2] Beliau berkata, Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah” [Hilyatu Auliya VIII/95, Abu Nu’aim. Dan lihat Tafsir Al-Baghawi V/419, Jami’ul Al-Ulum wal Hikam 10 dan Madarij As-Salikin I/83] Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata [Mawarid Al-Aman Al-Muntaqa min Ighatshah Al-Lahfan 35], “Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah suatu pekerjaan meskipun kecil melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan. Mengapa dan bagaimana ? Yakni, mengapa kamu melakukan dan bagaimana kamu melakukan ? Pertanyaan pertama tentang alasan dan dorongan melakukan pekerjaan. Apakah karena ada interes tertentu dan tujuan dari berbagai tujuan dunia seperti ingin dipuji manusia atau takut kecaman mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu yang dicintai secara cepat, atau menghindarkan sesuatu yang tidak disukai dengan cepat ? Ataukah yang mendorong melakukan pekerjaan itu karena untuk pengabdian kepada Allah dan mencari kecintaan-Nya serta untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ? Artinya, pertanyaan pertama adalah, apakah kamu mengerjakan amal karena Allah, ataukah karena kepentingan diri sendiri dan hawa nafsu? Adapun pertanyaan kedua tentang mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam pengabdian itu. Artinya, apakah amal yang dikerjakan sesuai syari’at Allah yang disampaikan Rasul-Nya? Ataukah pekerjaan itu tidak disyari’atkan Allah dan tidak diridhai-Nya? Pertanyaan pertama berkaitan dengan ikhlas ketika beramal, sedangkan yang kedua tentang mengikuti Sunnah. Sebab Allah tidak akan menerima amal kecuali memenuhi kedua syarat tersebut. Maka agar selamat dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan. Sedang agar selamat dari pertanyaan kedua adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam mengerjakan setiap amal. Jadi amal yang diterima adalah bila hatinya selamat dari keinginan yang bertentangan dengan ikhlas dan juga selamat dari hawa nafsu yang kontradiksi dengan mengikuti Sunnah”. Ibnu Katsir dalam tafsirnya I/231 berkata, “Sesungguhnya amal yang di terima harus memenuhi dua syarat. Pertama, ikhlas karena Allah. Kedua, benar dan sesuai syari’at. Jika dilakukan dengna ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima“. Pernyataan itu dikuatkan dan dijelaskan oleh Ibnu Ajlan, ia berkata, “Amal tidak dikatakan baik kecuali dengan tiga kriteria takwa kepada Allah, niat baik dan tepat sesuai sunnah” [Jami Al-Ulum wal Hikam 10] Kesimpulannya, bahwa sabda Nabi , “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” itu maksudnya, bahwa segala amal dapat berhasil tergantung pada niatnya. Ini adalah perintah untuk ikhlas dan mendatangkan niat dalam segala amal yang akan dilakukan oleh seseorang dengan sengaja, itulah yang menjadi sebab adanya amal dan pelaksanaannya. [Lihat Fathul bari I/13 dan Umdah Al-Qari I/25] Atas dasar ini, maka seseorang tidak dibenarkan sama sekali menggunakan hadits tersebut sebagai dalil pembenaran amal yang batil dan bid’ah karena semata-mata niat baik orang yang melakukannya! 8. Pertanyaan Jika itu bid’ah kenapa Kyai, Habib dan Ustadz di Indonesia melakukannya ? Jawab Pertama Perbuatan seseorang tidak boleh dijadikan dalil/hujjah didalam agama, apalagi perbuatan tersebut bertentangan dengan syariat. Lihat kembali jawaban dari pertanyaan ke-4 bagian pertama. Kedua Kyai, Habib ataupun Ustadz adalah manusia biasa yang tidak bisa merubah ketetapan syariat yang telah Allah tetapkan. Mereka kyai, habib dan ustadz bisa salah dan bisa benar. Jika perbuatan mereka bersesuaian dengan Kitabullah dan Sunnah diatas pemahaman salafush-shalih maka boleh kita ambil. Tetapi jika bertentangan maka wajib kita tolak dan tinggalkan. Allah berfirman Dan bahwa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. [QS Al-An’aam 153] Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahlul bid’ah. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah r dan para Shahabatnya t. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah U. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU… Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah, kecuali melalui jalan yang satu ini. [Tafsiir al-Qayyim, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, cet. Daarul Kutub al-Ilmiyyah th. 1398 H] 9. Pertanyaan Apa saja contoh bid’ah ? Jawab Contoh-contoh bid’ah dari sekian banyak bid’ah yang ada disekitar kita Maulid Nabi saran sebaiknya pelajari dan kenali asal-muasal maulid Nabi, siapa pencetus pertama maulid Nabi Acara selamatan Kematian, Kehamilan 3 bulan, 7 bulan dan selamatan/syukuran lainnya umumnya terjadi pada negara yang masyarakat dahulunya adalah beragama Hindu Yasinan asal hukum baca Surat Yasin boleh, tapi jika ditentukan waktunya –misalkan tiap hari/malam tertentu-, bilangan – misalkan baca sekian kali– dan tempatnya –misalnya baca dikuburan, ditempat kematian dll– maka itu adalah bid’ah, jika itu baik maka Nabi dan para Sahabatnya telah mendahului kita mengamalkannya, bukankah Istri yang paling dicintai Nabi juga meninggal, jika itu baik kenapa Nabi tidak membacakan Yasin atau selamatan kematian/tahlilan ?. Shalawat Badar, Nariyah, Fatih, Qubra dll shalawat ini mengandung kesyirikan jika diartikan kedalam bahasa Indonesia dan shalawat tersebut tidak ada asalnya dari Nabi Peringatan malam Nisfu Sya’ban Dzikir secara berjama’ah dipimpin oleh satu orang atau lebih. dll Demikianlah seputar tanya jawab yang umumnya terjadi antara ahlussunnah dan ahlul bid’ah. Ahlussunnah adalah orang yang berpegang teguh diatas sunnah Nabi atau dengan kata lain orang yang kehidupannya berada/mengikuti petunjuk Nabi . Ahlul Bid’ah adalah orang yang kehidupannya dipenuhi dengan amalan bid’ah, amalan yang tidak ada asalnya dari Nabi . Sebagai penutup semoga kita diberikan hidayah oleh Allah didalam menerima kebenaran yang memang pahit ini dan meninggalkan segala bentuk amalan bid’ah, dan mereka yang terjebak didalam bid’ah yang kemungkinan memiliki tujuan baik dan menghendaki kebaikan, apabila anda memang menghendaki kebaikan, maka -demi Allah- tidak ada jalan yang lebih baik dari pada jalan generasi terbaik umat ini yaitu zaman Nabi dan para sahabatnya, tabi’in dan tabiut tabi’in. Hendaklah kaum muslimin yang menganggap baik sebagian bid’ah, baik yang berkenaan dengan pribadi atau cara mengagungkan Rasulullah , hendaklah mereka takut kepada Allah dan menghindari hal-hal semacam itu. Beramallah dengan didasari ikhlas dan mengikuti contoh Nabi , bukan amal yang syirik dan bid’ah, menurut apa yang diridhai oleh Allah, bukan apa yang disenangi syaitan. Semoga Allah menerangkan hati kita dengan iman dan ilmu, menjadikan ilmu agama yang kita miliki menjadi berkah dan bukan bencana. Semoga Allah membimbing kita kepada jalan para hamba-Nya yang beriman dan golongan-Nya yang beruntung. Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya. Wallahu alam Abu Yazid Fatwa Rohmana 13 Rabiul Awwal 1430 This entry was posted on Selasa, Maret 10th, 2009 at 1136 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS feed. You can leave a response, or trackback from your own site. Navigasi pos Previous Post Next Post »